Jumat, 01 Januari 2016

Little Venice Kota Bunga Cipanas

Ini tulisan pertama saya di tahun 2016. Berbagi cerita tentang pengalaman saya sewaktu ke Kota Bunga Cipanas. Kota Bunga, tertarik untuk ke sana setelah melihat foto-foto yang dikirim oleh salah satu teman di media sosial. Tanpa pikir panjang googling untuk tahu lebih banyak. Setelah bicarakan dengan suami kami sepakat untuk ke sana hari Ahad, 27 Desember 2015.

Ingin mencoba suasana yang berbeda, saya dan suami berangkat menuju Kota Bunga Cipanas dengan mengendarai motor. Walaupun sudah kebayang lelahnya naik motor Tambun - Cipanas, tapi selama perjalanan dinikmati saja. Kami berangkat pukul 06.00 dari rumah, kemudian pukul 07.00 kami beristirahat dulu di Mesjid Raya Jalan Raya Alternatif Transyogi Cibubur, mesjidnya besar dan adem (nama mesjidnya lupa). Kami di sana untuk sarapan dan sholat dhuha. Pukul 08.00, kami melanjutkan kembali perjalanan.

Suami mengendarai motornya dengan kecepatan sedang saja, tidak ngebut. Karena kami memang ingin menikmati perjalanan. Pukul 10.00, kami sampai di Mesjid At Ta'awun Puncak. Rehat setengah jam untuk meluruskan kaki dan menyegarkan wajah. Brrr ... segaaarr saat air membasahi muka.
Tidak lupa kami pun mengabadikan kebersamaan kami di sana (^_^).

Depan Mesjid At Ta'awun
Bersama di depan Mesjid At Ta'awun Puncak
Pukul 10.30, kami lanjutkan kembali perjalanan, dan pukul 11.00 tibalah kami di Kota Bunga Cipanas. Kota Bunga satu arah dengan Taman Bunga Nusantara, tapi kalau dari arah Cisarua, Kota Bunga sebelum Taman Bunga Nusantara. Karena ini pertama kali kami ke sana, maka kami pun bertanya pada security di gerbang Kota Bunga. Oh ya, Kota Bunga itu nama perumahan, bukan tempat wisata pada umumnya, tapi ada satu kawasan di dalam Kota Bunga yang dijadikan obyek wisata. Kawasan itu namanya Little Venice.

Untuk masuk ke dalamnya kami harus membeli tiket terlebih dahulu, harga tiketnya Rp. 20.000 per orang. Ada juga tiket terusan seharga Rp. 50.000, sudah termasuk tiket Perahu Gondola dan Perahu Missisipi. Karena ketika kami tiba di sana cuaca agak mendung, kami tidak beli tiket terusan, khawatir tidak bisa menaiki Perahu Gondola-nya, karena Perahu Gondola tidak beratap. Sebenarnya kalau beli tiket terusan jadi ada potongan Rp. 10.000, karena tiket Perahu Gondola dan Perahu Missisipi masing-masing seharga Rp. 20.000.

Begitu masuk, wowww ... pemandangan yang sangat menarik. Kami langsung menuju tempat pembelian tiket Perahu Gondola dan Perahu Missisipi. Setelah dapat tiketnya, kami langsung menuju tempat menunggu kedua perahu tersebut. Ternyata, Perahu Gondola banyak peminatnya, kami pun harus rela antri. Kurang lebih 15 menit menunggu, tibalah kami menaiki Perahu Gondola. 

Gerbang Little Venice
Gelang Tiket Masuk
Tiket Perahu Gondola dan Missisipi
Perahu Gondola

Perahu Missisipi

Berkeliling dengan Perahu Gondola

Berkeliling dengan Perahu Gondola

Berpose di Perahu Missisipi

Berdua di Perahu Missisipi


Berfoto ria

Cekrek dulu sebelum pulang (^_^)

Berkeliling dengan Perahu Gondola serasa di Italia (hehehehe). Bangunannya pun mendukung. Setelah puas berkeliling dengan Perahu Gondola, lanjut menaiki Perahu Missisipi. Oh ya, Perahu Gondola hanya muat untuk 4 orang, sedangkan Perahu Missisipi muatannya lebih banyak, sekitar 15 orang. Duduk santai dalam perahu, angin semilir ditambah pemandangan yang indah. Bikin fresh mata dan otak. Setelah puas dengan menaiki perahu, kami pun lanjut dengan berfoto ria. Sebenarnya ada juga sepeda air, tapi kami tidak naik.

Setelah puas berfoto-foto ria, kami lanjut untuk makan siang dan sholat dzuhur. Setelah itu, kami pun pulang. Di perjalanan pulang, suami berfikir untuk tidak langsung kembali ke Tambun, karena badannya terasa lelah. Akhirnya, kami putuskan untuk bermalam dahulu dengan menuju Wisma Tugu Puncak.

Wisma Tugu Puncak, tidak asing bagi kami, karena kemaren adalah kali kedua saya ke sana, kalau suami malah sudah tiga kali. 2x dengan saya dan 1x bersama anak-anak muridnya dari sekolah. Tempatnya enak dan murah (he he he). Di Wisma Tugu, kami menempati kamar yang sama seperti pertama kali datang ke sana, kamar C.101, view-nya pemandangan yang baguuuuuss banget. 

Bermalam di Wisma Tugu, membuat badan kami segar kembali. Pagi harinya sebelum pulang, kami jalan-jalan dulu ke Puncak Pass dan kebun teh untuk berfoto ria dan membeli sarapan. Suasana yang berbeda dengan di Tambun (^_^). Pukul 09.30 kami pun kembali ke Tambun tentunya dengan bermotor lagi (hehehe). 
Pose depan kamar di Wisma Tugu

View Depan Kamar

Puncak Pass



Demikianlah perjalanan kami dari Tambun - Kota Bunga Cipanas. Lelah tapi seru dan mengasyikkan.

Tambun - Bekasi





Minggu, 26 Juli 2015

Sulitnya Menyeberang Saat Arus Satu Arah

Terusik menulis tentang ini, mengingat pengalaman saat dari Taman Safari Cisarua Bogor hari Rabu yang lalu, melihat seorang ibu dengan anak lelakinya yang baru berumur 5 tahun hampir tertabrak mobil saat akan menyeberang di daerah Cipayung untuk menaiki angkot yang saya ada di dalamnya. Sesampainya di dalam angkot, saya masih melihat, betapa ibu tersebut gemetaran yang luar biasa. Kami seluruh penumpang di dalam angkot yang kebanyakan adalah ibu-ibu juga, berusaha menenangkannya.

Ini bukan kali pertama kejadian seperti itu, seorang ibu yang duduk di sebelah saya dan tinggal di daerah Cisarua mengatakan "Sering banget bu, kalau lagi satu arah, mobil pada ngebut-ngebut, susah untuk nyeberang. Bahkan saat Hari Raya Idul Fitri kemaren, tetangga saya, ibu-ibu meninggal, karena lagi nyeberang tertabrak bus, kondisinya parah bu" ... Saya benar-benar menyimak cerita ibu di sebelah saya.

Sambil mendengarkan cerita ibu tersebut yang menceritakan beberapa tetangganya yang mengalami nasib sama, kesulitan saat menyeberang, pikiran saya berkecamuk. Betapa tidak ... baru saja, saya mengirimkan tweet ke radio Sindo Trijaya FM dan El Shinta tentang info lalin "Dari puncak dibuka satu arah turun. Cisarua - Ciawi lancar jaya" dan saya bahagia banget, karena perjalanan yang sangat lancar berbeda dengan saat kami datang. Tapi ternyata, kondisi yang dibuka satu arah itu, justru menyulitkan warga sekitar yang ingin menyeberang, terutama ibu-ibu. Ya Allah ... ternyata bahagianya saya, kesulitan bagi mereka.

Sampai saya menulis ini, saya sendiri belum tahu, solusi apa yang terbaik untuk mereka. Memang ... kondisi itu hanya sementara, tidak permanen. Hanya saat dibuka satu arah saja, tapi tetap harus dicarikan jalan keluarnya, agar siapa pun yang menyeberang merasa aman. Sehingga semuanya senang, pengguna jalan dan warga sekitar.

Tambun - Bekasi

Sabtu, 25 Juli 2015

Libur Lebaran ke Taman Safari ala Backpacker

Rabu, 22 Juli 2015 saya dan suami melakukan perjalanan menuju Taman Safari Cisarua Bogor. Seperti biasa, kami berangkat ala backpacker, alias naik kendaraan umum. Alasannya, pertama karena kami belum mempunyai kendaraan mobil dan kedua biar irit, ga nyewa mobil ... hehehhe.
Oh ya ... tiket ke Taman Safarinya gratis lhooo, reward dari Sindo Trijaya FM, karena saya salah satu pemenang kuis "Hemat Ala Saya" yang diadakan di radio tersebut. Pas banget, dapat tiket gratisnya 2, jadi saya dan suami bisa pergi bersama. Yeaaayyyy ...



Kami berangkat dari rumah pukul 07.30 dengan mengendarai motor menuju Bulak Kapal. Kurang lebih 20 menit kami sampai di Bulak Kapal lalu suami langsung menitipkan motor di tempat penitipan motor langganannya. Lanjut menuju halte untuk menunggu bus jurusan Bogor. Lumayan lama juga menunggu bus yang satu ini, sekitar pukul 08.15 bus jurusan Bogor pun datang, bus Kramat Jati, kami langsung naik. Ternyata bangku di dalam bus hampir penuh, tapi alhamdulillaah kami masih dapat tempat duduk bersebelahan. Ongkos bus ini Rp. 20.000,-/orang karena masih suasana Lebaran, biasanya hanya Rp. 16.000,- kata seorang ibu yang duduk di samping saya. Beliau setiap hari menggunakan bus tersebut. Selain bus Kramat Jati ada juga bus Sinar Jaya dengan rute yang sama.

Pukul 09.30 sampailah kami di Terminal Bus Baranangsiang. Kami turun di depan terminal, tidak ikutan masuk ke dalam terminalnya. Perjalanan kami lanjutkan dengan menaiki mobil angkot warna hijau nomer 01 jurusan Baranangsiang - Ciawi. Alhamdulillaah perjalanannya lancar. Saat di angkot 01, saya coba twitter ke Sindo Trijaya FM untuk menanyakan info lalin dari Ciawi menuju Cisarua, berdasarkan informasi dari Sindo Trijaya FM, Gadog - arah puncak padat. Waaah, harus bersiap-siap dengan kemacetan nich, pikir saya. Dari Baranangsiang - Ciawi hanya 25 menit, lancar banget.

Perjalanan masih berlanjut dengan menaiki mobil angkot warna biru ada juga yang warna hijau, jurusan Ciawi - Cisarua. Naaahh ... bener banget, dari Ciawi menuju Cisarua, lama banget. Kepadatannya super-super. Harus ekstra sabar. Bayangkan dari Ciawi pukul 09.55 sampai di pertigaan Taman Safari pukul 12.05 ... Ongkos angkot ini Rp. 12.000/orang. Begitu turun dari mobil angkot, kami tidak langsung naik mobil merah menuju lokasi wisata Taman Safari, tapi makan dulu di rumah makan, lapeerrr bangeeetttt ... selesai makan, baru dech lanjutin lagi naik angkotnya. Sssstt, mobil angkot merahnya ngetemnya agak lama, dari mulai kami makan sampai selesai baru dech mobil angkotnya jalan. Masih rezeki, sampai saya bilang sama suami, mobil angkotnya nungguin kita kali ya ... Mobil angkot merahnya sampai pintu loket. Ongkosnya Rp. 10.000/orang.

Alhamdulillaah ... akhirnya sampai juga di Taman Safari. Turun dari angkot langsung menuju loket dan menunjukkan 2 tiket gratis dari Sindo Trijaya FM. Ga pake ribet, langsung dikasih 2 tiket terusan yang nantinya akan dipasang dipergelangan masing-masing. Karena kami tidak membawa kendaraan mobil ke dalam, maka naik Safari Bus untuk berkeliling di dalam Taman Safari. Enak lho, naik bus ini, kacanya besaaaarr, puas lihat binatangnya dan juga ada guide-nya, yang menginformasikan binatang apa saja yang dilewati. Favorit saya adalah Jerapah, seneng aja lihatnya ... hehehehe.












Kurang lebih 1 jam keliling-keliling,  bus pun berhenti di area parkir dekat taman bermain. Sebelum melanjutkan, kami sholat dzuhur dulu, setelah itu lanjut ke permainan. Tidak banyak permainan yang kami naiki, saya hanya naik Mining Coaster. Kalau suami naik Mining Coaster dan Ontang Anting (namanya lupa ... Ontang Anting mah yang di Dufan) selebihnya melihat pertunjukan-pertunjukan hewan saja.

Karena kami khawatir jalur ke Ciawi macet lagi, setelah sholat Ashar kami langsung pulang. Pada saat mau pulang, saya dan juga pengunjung yang lain menunggu lagi di area parkir tempat kita datang untuk menunggu jemputan Safari Bus, lama ditunggu tidak datang-datang akhirnya kami memutuskan untuk berjalan kaki saja keluar. Ternyata jaraknya hanya 100 meter dari tempat kami menunggu. Kata salah satu pengunjung dari Bandung yang ikutan jalan bareng ... yaaa ampuun tau gitu jalan kaki aja, saya nungguin busnya sampai 1 jam lebih. Saya cuma senyum ... 

Untuk turun ke bawah, naik mobil angkot merah lagi. Tapi karena penumpangnya hanya kami berdua, sopir menawarkan harga yang agak lebih tinggi yaitu Rp. 15.000/orang tapi mobil langsung jalan, ga pake nunggu yang lain. Kami pun setuju. Jadilah di angkot itu hanya berdua saja penumpangnya. Sampai di pertigaan Taman Safari dilanjutkan lagi dengan mobil seperti saat datang. Alhamdulillaah ternyata jalur turun lagi dibuka. Jadilah Cisarua - Ciawi lancar jaya. Lanjut Ciawi - Baranangsiang, dan Bogor - Bekasi. Naah, pulangnya dari Terminal Baranangsiang Bogor kami naik bus Sinar Jaya. Sambil menunggu bus jalan, suami membeli makanan yang ditawarkan pedagang yang naik ke bus, dari gorengan, dodol Cianjur (bukan dodol garut lho) dan mochi. Gorengan dan dodol langsung habis kami makan di bus, hanya mochi yang sampai di Tambun ... (^_^)

Bus pun akhirnya berangkat menuju Bekasi. Di terminal Baranangsiang sudah hujan, ditambah perut kenyang, plus mobil AC, sepanjang perjalanan kami pun tidur. Karena ongkos sudah ditarikin di awal, jadi kami bisa bebas tidur. Nyenyak banget tidurnya, bangun-bangun ... ehh ternyata sudah sampai di Tol Bekasi Timur. Kami pun langsung bersiap-siap, karena harus turun di halte sebelum Bulak Kapal untuk menuju penitipan motor. Lanjut dengan motor, kami pun pulang ke rumah. Sebelum sampai di Puri Cendana, mampir dulu di ayam bakar Kalasan Perumnas 3 Tambun Bekasi. Memenuhi hak perut, jatah makan malam ... hehehe.

Ini perjalanan kami ke-3 ala backpacker, sebelumnya ke Kawah Putih Ciwidey Bandung dan Pulau Tidung Kepulauan Seribu. Selalu seru dan menarik dalam setiap perjalanan. Nantikan perjalanan kami berikutnya ya ...

Tambun - Bekasi

Jumat, 27 Maret 2015

Tips Menjaga Orang Sakit

Siapa pun tidak ada yang ingin sakit, baik untuk dirinya sendiri maupun anggota keluarganya. Tapi jika sakit itu sudah datang bahkan sampai harus dirawat di rumah sakit, maka bukan menyalahkan Allah dan keputusasaan yang dilakukan, melainkan kita berusaha dengan berobat secara maksimal untuk mendapatkan kesembuhan.

Menjaga orang sakit yang dirawat di rumah sakit ternyata tidak semudah yang kita bayangkan. Harus banyak yang kita persiapkan agar kehadiran kita di sana setidaknya bisa membantu mengurangi rasa sakit yang diderita pasien. Saya akan berbagi tips menjaga orang sakit berdasarkan pengalaman saya menemani almarhumah ibu saya yang pernah dirawat kurang lebih 3 bulan di RSCM Jakarta pada tahun 2009. Dari 3 bulan itulah, banyak pelajaran hidup yang luar biasa yang saya dapatkan.

Tips menjaga orang sakit yang dirawat di rumah sakit:

1. Jangan malas untuk makan.
Biasanya saat menemani orang sakit membuat kita jadi malas untuk makan, padahal ini sangat     berbahaya sekali. Tidak akan mungkin kita bisa menjaga dengan baik kalau tubuh kita sendiri tidak sehat. Makannya juga jangan sembarangan, tetap harus memperhatikan kesehatan tubuh kita. Biasanya saya stock roti dan buah di rumah sakit, agar saat perut terasa kosong dan tidak memungkinkan untuk keluar ruangan, saya tetap bisa makan.

2. Rajin minum madu/sari kurma.
Maksudnya supaya badan kita tidak lemes. Tidur yang tidak teratur dan juga tidak di kasur membuat kondisi tubuh kita butuh banyak asupan. Saat saya di rumah sakit, yang saya lakukan adalah rajin minum sari kurma. Dengan 2 sendok setiap pagi, ternyata khasiatnya luar biasa sekali.

3. Mencatat setiap obat yang diberikan
Tadinya hanya sekedar untuk mengingatkan saya pribadi, obat apa saja yang telah diberikan, tapi ternyata catatan saya sangat membantu pada saat kunjungan dokter.  Karena saya tidak hanya mencatat nama obat, jumlahnya berapa, tapi juga berapa infusan yang sudah diberikan. Walaupun di catatan medis ibu saya semuanya juga sudah ada.

4. Tampilkan wajah yang selalu menyenangkan
Hal ini memang sulit untuk dilakukan, tapi HARUS. Bermain sandiwara dihadapan pasien akan sering kita lakukan. Tapi tak mengapa, demi untuk kebaikan pasien. 

5. Bersabar
Sabar .... Sabar ... dan sabar. Kondisi emosional orang yang sedang sakit biasanya tidak stabil, mudah menangis, murung dan ada juga yang suka marah-marah karena putus asa. Tugas kita saat menjaganya adalah menenangkannya, tentunya dengan bahasa yang lemah lembut, tidak kasar dan jangan sekali-kali bernada tinggi/membentak.

6. Perbanyak Do'a dan Tilawah
Kedua hal ini merupakan hal utama yang tidak putus kita lakukan. Berdo'a agar diberikan kesembuhan pada pasien, dan tilawah agar Allah memudahkan segala urusan kita. Dengan tilawah juga menjaga kondisi emosional kita sendiri. 

Demikianlah, tips menjaga orang sakit yang bisa saya bagi kepada pembaca. Salah seorang sahabat saya berkata "Lelah fisik manusiawi, yang penting jangan sampai lelah hati". Disampaikan kepada saya pada saat menjenguk ibu saya di RSCM. Kalimat ini selalu saya ingat. Tidak dapat dipungkiri menjaga orang sakit menjadikan tubuh ini lelah, tapi tak mengapa, yang penting adalah jangan sampai kita lelah hati dalam menjaga mereka ...

Salam semangat untuk siapa saja yang dari kemarin atau hari ini menjaga orang yang kita sayangi dan cintai di rumah sakit. Satu hal yang pasti dan saya yakini, kita adalah orang-orang pilihan ... Allah tahu bahwa kita kuat , makanya Allah berikan kita ujian yang tidak biasa.

Tambun - Bekasi

5 Menit Saja

Tanggal 2 Maret 2015 yang lalu saya legalisir akreditasi kampus ke Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN - PT)  di Jalan Raya Fatmawati Jakarta Selatan. Sehari sebelumnya saya googling untuk mencari tahu letak BAN PT ini. Berbekal informasi hasil googling berangkatlah saya ditemani oleh suami menuju BAN PT.

Berangkat dari sekolah sekitar pukul 10.00 dengan mengendarai motor menuju Bulak Kapal. Setelah suami menitipkan motor di penitipan motor langganannya, langsung menuju halte untuk menunggu Bus arah Lebak Bulus yaitu Bus AC 132. Sampai di halte Bulak Kapal sekitar pukul 10.30. Setelah 5 menit menunggu, bus pun datang. Alhamdulillaah, kami dapat tempat duduk, walaupun hampir semua tempat duduk sudah terisi. Saya berfikir, kok tumben, perjalanan sudah siang begini, bus masih agak penuh, ternyata, informasi dari penumpang lain, bus ini baru ada setelah menunggu kurang lebih 1 jam. Saya dan suami bersyukur, karena kami hanya menunggu 5 menit saja.

Bus melaju lancar menuju Lebak Bulus, tidak ada halangan & hambatan. Kami turun di perempatan Fatmawati lalu menyeberang ke arah Blok M. Untuk melanjutkan perjalanan awalnya ingin naik bajaj atau angkot saja, biar kami lebih leluasa melihat-lihat kanan kiri, makluuum belum tahu tempatnya (^_^). Tapi ternyata, bajaj dan angkot tidak melewati tempat yang kami tuju, supir angkot menyarankan kami untuk menaiki Metromini 610 (Fatmawati - Blok M).
Setelah Meromini 610 berjalan, mata saya dan suami tidak lepas mencari gedung BAN PT, ada sedikit kendala, karena Jalan Raya Fatmawati arah Blok M sedang ada perbaikan dan perluasan, maka di tengah-tengah jalan ditutup seng yang cukup tinggi sehigga menghalangi pandangan kami untuk melihat ke posisi sebelah kanan (hasil googling  BAN PT ada di sebelah kanan). Setelah mata kami sibuk mencari gedung tersebut, akhirnya ketemu juga ...

Gedung BAN PT di Jalan Raya Fatmawati sangat asri. Memasuki gedung BAN PT disambut oleh Pak Security yang sangat ramah, setelah mengisi Buku Daftar Tamu, beliau menunjukkan lokasi yang kami tuju. Sepanjang kami menuju tempat legalisir, setiap kali bertemu dengan pegawai di sana, semuanya selalu memberikan senyum yang manis dan wajah yang sangat ramah. Menyejukkan ... Di bagian tempat legalisir, hanya saya yang masuk, suami menunggu di depan. Begitu masuk ke dalam, lagi-lagi saya disambut hangat dan ramah oleh petugasnya, dan ternyata hanya 5 menit saja legalisirnya, langsung selesai. Saya keluar ruangan sambil senyam-senyum. Suami justru bertanya, ditunggu ya legalisirnya? Saya bilang, sudah selesai (^_^)

Saya sangat bersyukur karena urusan legalisir Allah mudahkan ... Alhamdulillaah. Sebelum kembali ke Tambun, saya mampir dulu ke kampus IISIP di Lenteng Agung Jakarta Selatan, untuk mengambil legalisir ijazah. Dari perempatan Fatmawati cukup sekali saja naik Bus Lebak Bulus - Depok dan turun di seberang depan kampus/taman. Bela-belain mampir ke kampus selain urusan legalisir ijazah sekaligus ingin menikmati lagi soto babat dan es teh manis dekat kampus. Makanan dan minuman favorit dari kuliah sampai sekarang ... he he he. 

Setelah sholat dzuhur di musholla kampus dan kenyang bersoto babat ria barulah kembali pulang ke "home sweet home" kami ...

Tambun - Bekasi

Jumat, 02 Januari 2015

Taman Wisata Pasir Putih Depok

Tempat wisata ini berada di Sawangan Depok, Jawa Barat. Saya sendiri sebagai orang yang pernah tinggal di Depok, baru  mengetahuinya sekitar 3 bulan yang lalu. Saat itu saya sedang cari-cari tempat wisata yang cocok untuk rihlah Taman Pendidikan Qur'an saya. Walaupun akhirnya tempat tujuan rihlah TPQ saya bukan ke sana, tapi, tempat wisata ini meninggalkan rasa penasaran yang besar untuk dikunjungi.

Memenuhi rasa penasaran saya, tanggal 1 Januari 2015 kemaren, saya dan keluarga besar berkunjung ke sana. Kalau dari arah Terminal Depok, naik mobil ke arah Sawangan, angkutan umumnya D.03. Bertemu dengan Perumahan Sawangan Permai, masuk sampai ujung Sawangan Permai, lalu belok kiri, lurus saja, ikutin jalan itu, nanti akan ketemu Taman Wisata Pasir Putih, tembok depannya bercat merah. Saat kita berkunjung ke sana, jangan berharap kita akan menemukan pasir putih atau bisa bermain-main dengan pasir putih, karena tidak ada di sana, Pasir Putih itu hanyalah nama wilayahnya saja (^_^).

Taman Wisata Pasir Putih ini tempat berenang anak-anak, ada 2 area kolam renang dengan permainannya dan masing-masing terpisah. Di sana tidak ada kolam renang untuk dewasa. Harga tiket masuknya untuk Dewasa Rp. 20.000 dan Anak-anak Rp. 15.000, tapi liburan kemarin harganya naik menjadi Dewasa Rp. 25.000 dan Anak-anak Rp. 20.000. Berenang atau pun tidak kita harus bayar dengan harga tiket masuk itu. Tempat wisata ini beroperasi setiap hari kecuali hari Jum'at libur.

Saran saya, jika ingin datang ke tempat wisata ini, datanglah pagi-pagi, kemarin, saya dan keluarga besar, jam 08.30 WIB sudah ada di sana dan masih sepi, sehingga kita bisa bebas cari posisi duduk. Namun, sekitar pukul 10-an, mulai banyak pengunjung berdatangan dan seluruh area tempat wisata ini langsung penuh. Permainan lain pun ada, bahkan paket-paket outbond juga ada, tapi maaf, saya tidak hafal jenis-jenisnya. Jadi, bagi yang ingin mengetahui lebih jelas, silahkan datang langsung ke sana, atau cari-cari by google (^_^).

Pukul 11.45 WIB, kami meninggalkan taman wisata tersebut, karena area kolam renang maupun tempat istirahat sudah penuh sekali. Sangat tidak nyaman untuk 4 keponakan saya berenang dan bermain air di sana. Walaupun hanya setengah hari, mudah-mudahan bisa menyenangkan hati ke-4 keponakan saya.

Kolam Renang 1
4 keponakan
Me and My Sisters

Tambun - Bekasi

Wisata Ke Pulau Tidung

Wisata ke Pulau Tidung sudah masuk dalam rencana utama liburan kami. Tanggal 22 Desember 2014, langsung kami pesan penginapan di Pulau Tidung setelah mencari-cari by google. Kami pergi tidak melalui agen travel, karena rencana perginya hanya berdua saja, saya & suami. Alhamdulillaah, kami dapat penginapan, namanya Penginapan Samudra. Rencana menginap tanggal 29-30 Desember di Pulau Tidung dan kami pun langsung transfer untuk uang mukanya.

Banyak rencana sudah disusun rapi dan matang, hendak kemana saja di Pulau Tidung nanti. Tapi, hari Sabtu, 27 Desember 2014, sepulang dari kuliahnya, suami bilang : "Kita ga jadi ke Pulau Tidung, hari Senin saya harus ketemu dosen untuk bimbingan skripsi". Saya cuma bilang :"Yaaaaaa" ... (kecewa) tapi mau bagaimana lagi, urusan pendidikan harus diutamakan.

Hari Senin pagi tanggal 29 Desember 2014, saya hubungi Penginapan Samudra untuk pembatalan, sekaligus harus rela uang muka hangus. Selama suami di kampusnya, saya cari-cari di google, tempat wisata mana yang akan kami datangi sebagai pengganti Pulau Tidung. Ba'da Dzuhur suami kembali dari kampus dan bilang, kita ke Pantai Sawarna aja. Saya lihat di google, perjalanan dari rumah ke Pantai Sawarna kurang lebih 9 jam, waduh ... lama banget. Tapi, tidak ada pilihan lain, telp sana sini cari-cari penginapan. Ternyata, semua penginapan di Pantai Sawarna untuk tanggal 30-31 Desember sudah penuh semua. Jadi ... Pantai Sawarna pun belum bisa kami kunjungi.

Senin, 29 Desember 2014, sekitar pukul 17.30 ... saya dan suami masih mencari-cari tempat wisata yang akan kami kunjungi. Saya bilang : "Ke Pulau Tidung lagi aja dech, kita cari penginapan lain selain Penginapan Samudra", karena sebelumnya sudah saya batalkan. Suami setuju sambil bilang : "Kalau Allah izinkan, maka akan dimudahkan". Saya hanya jawab : "Aamiin". Kami mulai sibuk untuk menelephon penginapan di Pulau Tidung. Ternyata penginapan  untuk tanggal 30 - 31 Desember 2014 sudah penuh. Suami, cari-cari lagi di google, dan ketemu Homestay Ibu Yayah, langsung ditelp, dan alhamdulillaah ... bisa. Seneng banget dan wajah pun ceria. Pesan homestay di injury time. Lanjut, suami telp taxi untuk menjemput kami hari Selasa, pukul 03.45 WIB dan urusan taxi pun beres.

Selasa, 30 Desember 2014, pukul 03.45 WIB taxi yang kami pesan pun datang, dan kami langsung berangkat menuju Pelabuhan Kaliadem, karena kami akan menaiki Kapal Lumba-Lumba atau Karapu dari sana. Bisa juga dari Pelabuhan Muara Angke, tapi kapalnya kapal kayu. Pukul 05.00 WIB, kami sampai di Pelabuhan Kaliadem. Begitu tiba, langsung kami cari mushollanya terlebih dahulu. Selesai sholat Subuh, kami duduk-duduk di bangku tunggu dan langsung kami diberitahukan bahwa Kapal Lumba-Lumba atau Karapu sedang tidak beroperasi, karena habis kontraknya, yang ada hanya kapal kayu, tapi ada tempat duduknya juga, namanya Kapal Garuda Ekspress, nanti berangkat jam 08.00 WIB. Oh, ya sudah, tidak apa-apa, kami beli tiketnya dengan harga @50.000 dan sambil menunggu keberangkatan, kami foto-foto dulu di Pelabuhan Kaliadem yang bersih dan rapi tapi sepi.
Kapal Lumba-Lumba yang tidak jadi kita naikin
Pelabuhan Kaliadem

Pukul 06.30 WIB, penjaga tiket bilang, "Bu, sepertinya kalau hanya ibu berdua yang naik, kapal Garuda ga akan berangkat, lebih baik ibu naik dari Muara Angke saja, di sana banyak kapal yang berangkat ke Pulau Tidung".  Ow .. Oww ... setelah uang tiket dikembalikan, tanpa pikir panjang lagi kami langsung menuju Pelabuhan Muara Angke yang jaraknya tidak jauh dari Pelabuhan Kaliadem, dengan berjalan kaki sekitar 10 menit sudah sampai di Pelabuhan Muara Angke.

Suasana dan aroma yang berbeda saat kami tiba di Pelabuhan Muara Angke, ramai sekali dan aroma amis ikan menusuk hidung. Kami langsung menuju kapal yang akan berangkat ke Pulau Tidung. Akhirnya, naik kapal kayu juga. Tak apalah yang penting bisa sampai di Pulau Tidung dan tiket untuk kapal kayu ini seharga Rp. 40.000. Di dalam kapal sudah banyak orang, kami cari posisi duduk yang enak dan akhirnya dapat, bersebelahan dengan seorang wanita, sendirian, namanya mba Sari, ternyata beliau adalah seorang Tour Manager dari Travel UnlimiTrip, lihat di kartu namanya ... he he he.
Pukul 08.00 WIB, kapal pun berangkat, ini adalah kali pertama saya naik kapal. Perjalanan menuju Pulau Tidung sangat mengesankan, saya sangat menikmati irama ombak yang tenang. Subhanallaah ... indah nian ciptaan-Mu. Keberadaan mba Sari sangat membantu kami, yang baru pertama kali melakukan perjalanan ke Pulau Tidung. Suasana dalam kapal sangat ramai. Sambil ngobrol dengan mba Sari, kami menyantap cemilan.
Dalam Kapal Bima
Ramaaaii
















Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 2 jam, pukul 10.00 WIB, sampailah kami di Pulau Tidung. Alhamdulillaah ... sampai juga. Lega rasanya. Turun dari kapal, suami langsung hubungi Bu Yayah, pemilik homestay yang kami sewa. Ternyata, Bu Yayah, sudah menunggu kami di depan gerbang dermaga. Bu Yayah orangnya baik dan ramah. Kami pun menuju Homestay Bu Yayah. Sesampainya di homestay, kami langsung istirahat. Homestaynya enak, 2 kamar tidur, 2 kamar mandi, AC, TV, dan dispenser walaupun letaknya lumayan jauh dari Jembatan Cinta tapi ada fasilitas sewa sepeda, dan bisa juga naik Bemtor (Becak Motor).

Teras Homestay Bu Yayah

Pukul 13.00 WIB, kami menuju Jembatan Cinta, semangat mengayuh sepeda berdua dengan suami. Sampai di Jembatan Cinta, waaahh ... banyak orang sich, tapi tidak ada yang naik ke jembatan, soalnya panaass. Kami memilih duduk-duduk sambil menikmati es kelapa muda, hmmm ... segeeeeerrrr. Selesai menikmati es kelapa muda, kami keliling-keliling sebentar, kemudian kami kembali ke homestay, dan akan kembali sorenya.

Pukul 15.30 WIB, kami sudah siap di depan homestay, untuk kembali ke Jembatan Cinta, tapi kali ini tidak mengayuh sepeda, melainkan kami menaiki bemtor. Kami hanya menunggu di depan homestay, bemtornya yang akan menjemput kami. Pemilik homestay yang menghubungi bemtornya.
Suasana Jembatan Cinta sore hari, sangat jauh berbeda dengan siang hari, adeeeemm banget, dan sudah banyak orang yang siap-siap terjun dari Jembatan Cinta, oh ya, suami tidak ikutan loncat, kami hanya menonton saja, seneng lihatnya. Kami telusuri jembatan cinta sampai ujung, sambil berfoto-foto ria. Saat kami jalan-jalan di jembatan cinta, kami bertemu lagi dengan mba Sari. Naaah, kesempatan ini tidak kami sia-siakan, kami pun minta tolong mba Sari untuk foto kami berdua, dan tidak lupa saya pun foto bersama dengan mba Sari.

Selalu Bersama
With Mba Sari
Belahan Jiwa


Jembatan Cinta
Anginnya kenceeeng
Bebas eeuuyyy




Pantai Tidung Menjelang Senja
Pantai Tidung Menjelang Senja









Pantai Tidung Menjelang Senja
Setelah puas menyusuri jembatan cinta dan pantainya, kami pun kembali ke homestay dengan bemtor lagi. Kami tidak menunggu sunset, karena kami dipesankan oleh Bu Yayah, usahakan Maghrib sudah di rumah. Selesai sholat Maghrib, kami makan malam dengan menu spesial yang sudah disiapkan oleh Bu Yayah, yaitu cumi dan ikan. Nasi hangat, kecap pedes menambah gurih makan malam kami. Saya tergoda oleh cumi yang besar-besar, lahap makannya. Hmm ... yummmy dan malam itu super kenyang (^_^) dan kami pun tidur dengan pulas.

Rabu, 31 Desember 2014, pukul 07.00 WIB, kami meninggalkan homestay, karena kapal akan berangkat ke Muara Angke pukul 08.00 WIB. Pagi itu hujan, suami bertanya kepada suami Bu Yayah, "Kalau hujan begini, kapal tetap berangkat? Suami Bu Yayah bilang "Iya Pak, tetap berangkat". Saya berharap mudah-mudahan ombaknya tidak besar.

Suami Bu Yayah mengantarkan kami sampai dermaga dan kami lihat kapal sudah stand by di sana. Kami segera masuk dalam kapal untuk memilih posisi, ternyata kapal yang kami naiki banyak bocornya, alhasil banyak tempat yang basah di dalam kapal. Tadinya ingin duduk di bagian atas kapal, tapi karena hujan, kami memilih di dalam saja. Setelah mengambil pelampung, kami pun duduk menikmati sarapan yag sudah kami siapkan. Mualilah, banyak penumpang berdatangan, saat kami sedang asyik sarapan, tiba-tiba suami mencari pelampung yang tadi sudah diambil olehnya, ternyata pelampung kami tidak ada, diambil orang. Bukan salah orang itu juga, tapi karena kami yang hanya meletakkan begitu saja dekat tempat duduk kami jadi dianggapnya tidak ada yang punya. Suami langsung mengambil kembali 2 pelampung dan langsung kita gunakan sebagai alas duduk, biar tidak diambil orang lagi ... he he he.

Pukul 08.00 WIB, kapal pun berangkat, dari awal keberangkatan, saya sudah merasakan ombak yang lumayan besar. Semakin terus berjalan, akhirnya apa yang saya takutkan terjadi, ombaknya besaaarrr bangeeettt, goncangan kapal kami terasa sekali. Semua penumpang tegang, termasuk saya dan suami. Perut seperti dikocok luar biasa, takut, deg-deg-an, pasrah ... semuanya jadi satu. Wajah panik penumpang sangat kelihatan sekali. Suami mengingatkan saya untuk banyak dzikir, do'a dan murojaah. Sambil dzikir Al Ma'tsurat, terlihat, air dari ombak masuk lewat sela-sela kayu dalam kapal kami. Lantai kayu kami pun  basah. Situasi tegang itu berlangsung selama kurang lebih 1 jam. Selain rasa takut dan panik, mulailah satu persatu penumpang mabuk laut, karena tidak tahan goncangan ombaknya. Saya sendiri merasakan mual bukan kepalang, tapi alhamdulilllaah sampai akhir perjalanan tidak sampai mabuk laut, karena langsung minum tolak angin cair yang memang sudah disiapkan dari awal keberangkatan. 

Pukul 10.00 WIB kapal pun tiba di Pelabuhan Muara Angke. Alhamdulillaah ... lega. Perjalanan pulang kami lanjutkan dengan menaiki angkot merah 01 ke arah Grogol. Di terminal Grogol, kami mampir dulu di rumah makan Padang, karena perut terasa lapar. Setelah makan, perjalanan kami lanjutkan dengan naik Bus AC, jurusan Grogol - Bekasi. Bus ini lewat tol timur, kami turun di Bulak Kapal, dari Bulak Kapal lanjut naik mobil elf menuju Tambun, dari Pasar Tambun, kami lanjutkan dengan angkot 16C, dan di Warung Asem kami turun untuk melanjutkan dengan berjalan kaki menuju rumah. Perjalanan yang sangat luar biasa, mengesankan sekaligus menegangkan, tapi jadinya seru. 

Demikian wisata seru kami ala backpacker ke Pulau Tidung. Kalau dulu sewaktu SMA saya dan suami senang mendaki gunung, sekarang kesenangan itu kami alihkan menjadi menjelajah tempat wisata. Karena kalau mendaki gunung lagi, berat badan sudah tidak mendukung ... he he he. Sampai jumpa dalam perjalanan kami berikutnya ...

Tambun - Bekasi

Senin, 29 Desember 2014

KOTA TUA

Sebenarnya jalan-jalan ke Kota Tua tidak masuk dalam rencana liburan kali ini, tapi entah kenapa, suami tiba-tiba, kemarin ... Ahad, 28 Desember 2014, pulang dari kerja bakti di Mesjid Jami Al A'laa dekat rumah kami langsung bilang "Kita ke KoTu yuuk ...".  Saya tanya "Kapan?" Suami jawab "Sekarang". Padahal waktu itu sudah jam 10.30 WIB.  Suami bilang, kita berangkat jam 11.00 WIB. Tanpa ba-bi-bu lagi, langsung saya dan suami bersiap-siap untuk pergi ke Kota Tua Jakarta.

Molor 30 menit dari rencana awal, akhirnya berangkat dari rumah jam 11.30 WIB (hehehe) ... Dari rumah saya dan suami naik motor sampai Stasiun Bekasi. Dekat stasiun, suami menitipkan motor di tempat penitipan motor yang letaknya tidak jauh dari gerbang Stasiun Bekasi, karena suami tidak bisa parkir di dalam area stasiun. Parkiran di area stasiun khusus bagi yang berlangganan. Sedangkan suami bukan pelanggan parkir di sana.

Pukul 12.10 WIB, saya dan suami sudah berada di dalam Stasiun Bekasi, setelah membeli tiket commuterline untuk tujuan Stasiun Kota, kita langsung menuju musholla yang ada di dalam stasiun, karena waktu sholat dzuhur telah masuk. Setelah sholat dzuhur, saya dan suami menuju peron arah Stasiun Kota. Tidak lama, kereta menuju Stasiun Kota pun datang. Alhamdulillaah ... dapat tempat duduk.

Saya sangat menikmati perjalanan dalam kereta. Soalnya keretanya enak, dingiiiin dan tidak penuh (norak ya). Saya pun menghafalkan nama-nama stasiun, dimulai dari Stasiun Kranji sampai Stasiun Jatinegara karena walaupun tinggal di Bekasi sudah 11 tahun tapi baru kali ini naik kereta dari Stasiun Bekasi (hadeeuuh kemana aja sich selama ini) ... Naaah, kalau dari Stasiun Manggarai sampai Kota, saya masih hafal.

Setelah menikmati perjalanan dari satu stasiun ke stasiun lainnya, akhirnya sampai juga di Stasiun Kota. Penuh dan ramai itulah gambaran Stasiun Kota. Keluar dari Stasiun Kota, kami langsung menyeberang dan berjalan kaki menuju Kota Tua. Sepanjang kami berjalan kaki, sudah penuh dengan orang-orang, baik arah menuju Kota Tua maupun yang dari Kota Tua.

Begitu memasuki kawasan Kota Tua ... waaaaaahhh, rame bangeeeettt. Saya melihat, seorang anak perempuan sedang naik sepeda, tapi dia bingung mau kemana, karena terlalu banyak orang. Kalau begini,  tidak bisa naik sepeda nich ... ruang gerak untuk sepeda sangat terbatas. Akhirnya kami berjalan-jalan mengitari kawasan Kota Tua.  Belum lama kami berjalan, perut terasa keroncongan,  tapi saya dan suami tidak ingin makan nasi. Setelah lihat-lihat makanan yang ada di sana, pilihan kami jatuh pada mie ayam. Awalnya pesan mie ayam aja, tapi ternyata kurang, perut masih terasa lapar, akhirnya pesan ketoprak, pas banget, tukang jualannya di sebelah tukang mie ayam. Pesannya 1 piring aja sich, jadilah kami makan ketoprak satu piring berdua, biar romantis (^_^)

Setelah memenuhi hak perut, kami lanjutkan keliling-keliling. Oh, ya ... di sana kami berfoto dengan salah satu pejuang Indonesia yaitu Panglima Besar. Sudirman tapi bukan Sudirman asli (he he he). Bergantian, saya dan suami berfoto. Selesai foto-foto, kami lanjutkan dengan keliling-keliling lagi. Cape keliling, akhirnya kami duduk dekat boneka-boneka yang isinya orang, yang paling saya suka Masha. Lucuu ... Lagi asyik duduk-duduk, saya melihat ada seorang nenek yang lagi asyik ber-selfie-ria ... Waduuuhhh, kalah eeuuuyyy sama nenek-nenek (^_^)

Menjelang Ashar, kami langsung menuju musholla yang ada di depan Pusat Grosir Kota Tua. Lebih awal ke sana, biar tidak antri di kamar mandi dan tempat wudhunya. Setelah sholat Ashar, kami langsung pulang, menuju ke Stasiun Kota lagi. Tiba di Stasiun Kota, kaget bukan kepalang, banyak banget orang seperti lautan manusia. Bahkan untuk mencharge tiket commuterline, antriannya itu panjaaaaang. Penuh sesak, susah nafas ... melihat situasi seperti itu, suami langsung mengambil keputusan untuk keluar lagi, dan membeli tiket di Stasiun Jayakarta saja. Akhirnya, saya dan suami pun meninggalkan Stasiun Kota, dengan menaiki Bajaj Biru kami menuju Stasiun Jayakarta. 

Sesampainya di Stasiun Jayakarta, pemandangan yang sangat kontras ... sepiiiii bangeettt. Dan dengan cepat kami pun bisa mendapatkan tiket untuk menuju Stasiun Bekasi. Dengan menaiki anak tangga yang lumayan banyak, akhirnya kami pun bisa istirahat sejenak di Stasiun Jayakarta. Tidak menunggu lama, kereta menuju Stasiun Bekasi pun datang. Alhamdulillaah, saya masih dapat tempat duduk, tapi kalau suami harus rela untuk berdiri dulu sampai Stasiun Buaran, barulah di Stasiun Buaran, suami bisa duduk, karena banyak penumpang yang turun. 

Begitulah perjalanan kami menikmati hari Ahad, liburan yang dadakan tapi menyenangkan. Untuk kalian semua, selamat berlibur dan selamat menikmati liburan juga ya ...


Tambun - Bekasi

Kamis, 16 Oktober 2014

Diblokir atau Unfollow , Jangan Galau

60 menit yang lalu saya terbangun dan melihat ada 1 pesan yang masuk ke inbox FB di HP, yang isinya curhat seorang teman karena FB-nya diblokir oleh seseorang. Hmm ... dalam 1 pekan ini, sudah ada 3 orang yang curhat tentang hal yang sama, mengenai blokir atau unfollow, yang intinya mereka resah dan gelisah karena sudah diblokir atau diunfollow oleh orang-orang yang mereka kenal. Lagi-lagi saya menanggapinya dengan memberikan emoticon senyuman seperti kedua teman saya sebelumnya :).

Saat diblokir atau diunfollow oleh teman di media sosial, setiap orang berbeda menanggapinya, ada yang serius, tapi ada juga yang santai, seperti saya (^_^). Tapi, walaupun santai, saya punya catatan sendiri mengenai blokir atau unfollow. Berikut ini adalah catatan saya mengenai blokir atau unfollow :

1. Memblokir atau meng-unfollow adalah hak seseorang. Kita tidak bisa paksa orang lain untuk tidak memblokir atau meng-unfollow kita. Begitu juga sebaliknya. Jadi, kalau saat ini orang lain melakukannya pada kita, mungkin lain waktu kita yang akan melakukannya juga pada orang lain. So, tenang aja temans, ini hal yang biasa terjadi di media sosial. Jangan masukin ke dalam hati ... hehehe

2. Setiap orang yang memblokir atau meng-unfollow selalu punya alasan. Naah, masalahnya, alasannya ini tidak pernah sampai ke kita. Tapi, ga usah juga dikejar-kejar orang itu untuk mendapatkan alasan, yang ada nanti orang itu malah semakin "bete" sama kita, cuekin aja. 

3. Sadari bahwa masih banyak yang mau berteman dengan kita. Bersyukur, kalau teman di dunia nyata jauh lebih banyak daripada teman di dunia maya. Karena memang seharusnya seperti itu. Jadi, jangan dipusingin dengan hanya 1 orang yang blokir atau unfollow. Kalau pusing, sebentar aja, atau langsung minum obat pusing, biar pusingnya langsung move on (^_^).

4. Introspeksi diri. Untuk yang satu ini, perlu dilakukan, maksudnya supaya kita tidak mudah memvonis kesalahan pada orang lain, padahal sebenarnya masalahnya justru ada di diri kita sendiri.

Dari semua ini, intinya jika ada masalah berkaitan dengan komunikasi, lebih baik disampaikan dan dijelaskan. Kalau didiamkan saja, bisa berakibat tidak baik. Tidak selamanya diam itu menyelesaikan masalah, yang ada malah menambah masalah, karena setiap orang mempunyai persepsi berbeda dan belum tentu benar. Tapi jika diam adalah pilihannya, maka jalani saja kehidupan ini sebagaimana mestinya, tidak perlu galau. Kebanyakan galau, merugikan diri kita sendiri.

Saya bukan dosen komunikasi  apalagi pakar komunikasi, pastilah apa yang saya tulis ini masih jauh dari teori-teori komunikasi yang baik. Jadi, jika merasa masih mengganjal di hati dari tulisan saya ini, silahkan langsung konsultasi pada dosen komunikasi atau pakar komunikasi, karena mereka lebih paham tentang hal ini dan tentunya mereka akan memberikan solusi yang tepat untuk bertindak secara arif dan bijaksana dalam berkomunikasi di media sosial.

Tambun - Bekasi

Rabu, 15 Oktober 2014

Gusi Meradang Nafsu Makan Pun Hilang

Senin, 13 Oktober 2014 

Senin sore, di mulut terasa ada yang mengganjal & terasa nyeri. Coba lihat di kaca, oh ternyata gusi bengkak. Langsung keluar, pergi ke warung depan rumah, beli minuman larutan pereda panas dalam. Beli 3 botol, yang 2 botol masuk dulu ke kulkas, yang 1 botol langsung di minum. Mudah-mudahan nyerinya hilang, itu harapan saya.

Ba'da maghrib, nyerinya masih terasa, bahkan lebih hebat, tidak ada pilihan, ambil segelas air hangat ditambah 1 sendok garam, larutin, langsung kumur-kumur dan berharap nyerinya hilang. Ditunggu, 1 jam , 2 jam sampai 3 jam berlalu, nyerinya semakin hebat, dan bukan hanya gusi yang bengkak, tapi juga pipi pun ikutan bengkak. Ambil larutan yang masih tersisa di kulkas, langsung minum dua-duanya. Setelah itu, pipi yang bengkak diolesin Suncream. Karena pernah juga, gigi cenat-cenut, diolesin suncream di pipi, langsung hilang cenat-cenutnya. Tapi kali ini ternyata saya salah, nyeri dan bengkak semakin bertambah. Melihat bengkaknya pipi, aduuuhh, mesti diolesin pake apa lagi ya? ... Akhirnya saya memilih untuk membiarkan saja, kali aja nanti bengkaknya hilang sendiri.

Selasa, 14 Oktober 2014

Bangun pagi, ada yang terasa aneh dengan wajah, berasa wajah tidak simetris, lihat di kaca ... owhhh ternyata bengkaknya belum hilang, malah semakin besar. Tidak ada pilihan lain, tidak masuk sekolah. SMS ke Wakasek Kurikulum dan WA dengan panitia UTS, menginformasikan tidak bisa mengawas hari itu, biar jadwal mengawas digantikan oleh guru yang lain. Setelah mandi pagi, duduk di depan kaca rias di kamar, melihat wajah, ini tuch harus diapain ya dan harus dikasih obat apa? ... Berfikir sendirian, karena suami sedang tidak ada di rumah, beliau sedang mengantarkan ibunya ke Slawi Jawa Tengah dari hari Senin pagi sampai dengan 2 hari ke depan. Tanya ke adikku, Bundanya Rafly dan Radit di Depok by WA, katanya pake Cataflam 50 mg. Cepet buat ngilangin gusi yang bengkak. Setelah dapat info itu, sebenarnya pengen cepat-cepat beli obat itu di apotek, tapi berhubung di rumah sendirian, jadilah tertunda beli obatnya. Ditambah badan juga meriang. Jadi, ga bisa keluar rumah. 

Mengisi hari dengan mencoba berbagai cara untuk menghilangkan bengkak ala sendiri, mulai dari taruh langsung garam ke gusi yang bengkak sampai ngolesin es batu di pipi yang bengkak. Ternyata semuanya ga ada hasil. Bengkaknya masih eksis. Diperparah dengan kesulitan untuk bicara, mengunyah dan menelan makanan. Jadilah kemaren, nafsu makan hilang. Keadaan ini berlanjut sampai menjelang maghrib ...
Ba'da maghrib berfikir, kalau tidak dipaksa masuk makanan, bisa tambah parah nih penyakit ... Akhirnya dengan dipaksa, masuk juga makanan, supaya perut tidak kosong. Walaupun kesulitan saat masukin makanan ke mulut, mengunyah dan menelannya, tapi tidak ada pilihan lain, harus makan, daripada penyakitnya bertambah satu lagi, kan tambah repot nanti. Setelah makan, saya minum obat pereda nyeri yang ada di rumah ... Alhamdulilllaah, nyerinya hilang, tapi bengkaknya belum. Saya fikir, ga pa-pa dech, mungkin bertahap. Akibat minum obat pereda nyeri, membuat saya ngantuk hebat, karena memang efek dari obat pereda nyeri yang saya minum salah satunya membuat ngantuk. 

Rabu, 15 Oktober 2014

Bangun pagi di hari Rabu ini, lebih  semangat, karena tau, suami akan pulang pagi dari Slawi (hehehe) ... Lihat ke kaca lagi, hmmm, bengkaknya masih ada, tapi nyerinya sudah hilang. Pukul 08.30, suami pun datang ... seneng banget. Oh ya, hari ini pun saya belum masuk ke sekolah, karena pipi masih bengkak banget-banget. Suami pulang sekaligus membawa obat Cataflam dan Amoxylin, 2 obat yang baik diminum saat gusi bengkak, kata adik yang sudah pernah kena gusi bengkak dan juga dari penjaga di apotek, saat suami beli obat di apotek di daerah Mangun Jaya II sekalian pulang dari Slawi. Karena sebelumnya sudah sarapan bubur nasi, kedua obat itu pun langsung saya minum. Sampai saya menulis cerita ini, pipi saya masih bengkak, tapi mudah-mudahan berangsur-angsur hilang. Aamiin ...

Tambun - Bekasi